You are currently viewing Jakarta Tetap Jadi Kekuatan Ekonomi Meski Ibukota Pindah

Jakarta Tetap Jadi Kekuatan Ekonomi Meski Ibukota Pindah

Proses pemindahan ibu kota DKI Jakarta ke Ibu Kota Negara atau IKN yang terletak di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur akan dimulai tahun 2024 mendatang. Hal itu sudah disebutkan dalam Undang-Undang Ibu Kota Negara No.3 Tahun 2022 yang resmi diteken oleh Jokowi pada 15 Februari 2022 lalu. Adanya UU IKN tersebut juga menandai pembangunan IKN yang akan segera terealisasi.

Beberapa instansi pemerintahan pun wajib pindah ke ibu kota negara baru, yang artinya terdapat ratusan ribu ASN yang terpaksa bermigrasi kesana. Lantas, bagaimana nasib Jakarta yang sudah puluhan tahun menjadi ibu kota Republik Indonesia ? Karena kota Jakarta selama ini dikenal dengan geliat ekonominya yang lebih maju dari wilayah lainnya.

Alasan Ibu Kota dipindahkan ke IKN

Pemerintah memutuskan untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke IKN tentu menimbang banyak hal. Terutama untuk menghilangkan ketimpangan antara pulau Jawa dengan luasannya. Apalagi beban Jakarta sebagai ibu kota negara sejak 1945 sudah sangat berat. Berikut beberapa alasan lainnya mengapa ibu kota dipindah ke Kalimantan Timur :

Mengurangi Kepadatan Penduduk di Pulau Jawa

Data yang bersumber dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) pada tahun 2020, diperoleh hasil bahwa sekitar 56 persen penduduk Indonesia menempati Pulau Jawa. Hasil tersebut menunjukkan pulau terpadat di negara ini diduduki oleh Pulau Jawa. Persentasenya memang sangat fantastis dibandingkan pulau-pulau lainnya yang tersebar di wilayah Republik Indonesia.

 Apalagi sebagian besar tumpah ruah di Jakarta sebagai ibu kota negara yang dipenuhi dengan kegiatan dari berbagai sektor. Sedangkan persentase penduduk di Kalimantan hanya sekitar 6 persen.

Terancam Bencana Alam

Jakarta terkenal dengan kota besar yang rawan banjir. Bahkan sebagian besar wilayah yang ada di Jakarta, tingkat keamanan banjir jadi berkurang sampai di bawah 10 tahun. Idealnya untuk kota-kota besar tingkat keamanannya paling tidak sampai 50 tahun. Dampak yang terjadi di Jakarta karena sering dilanda banjir yakni adanya penurunan tanah sekitar 50 cm dalam waktu 10 tahun yang terhitung sejak 2007-2017.

Krisis Air Bersih

Masalah ketersediaan air bersih di Pulau Jawa juga belum teratasi juga. Pulau Jawa pernah mengalami krisis air yang terparah di tahun 2016 menurut data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Jakarta Tetap Jadi Kekuatan Ekonomi Meski Ibukota Pindah

Meratakan Pertumbuhan Ekonomi

Pulau Jawa sangat mendominasi dalam memberikan kontribusi ekonominya pada Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara di pulau-pulau lainnya masih sangat kecil. Dilihat dari data BPS tahun 2020, Pulau Jawa memberikan kontribusi ekonomi kisaran 59 persen dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5 persen.

Presiden Jokowi berharap tak akan lagi terdengar istilah “Jawa Sentris”, maka dari itu pemerataan kontribusi serta pertumbuhan ekonomi di wilayah lainnya harus dilakukan.

Jakarta Tetap Menjadi Pusat Perekonomian

Ibu kota baru yang nantinya akan dinamakan Nusantara ini memiliki luas berkali-kali lipat dibandingkan dengan luas wilayah DKI Jakarta. Kepadatan yang ada di Jakarta pun akhirnya bakal berkurang. Akan tetapi, jika beberapa instansi dipindahkan ke IKN, bagaimana perekonomian Jakarta di masa yang akan datang ?

Hal ini telah disorot oleh berbagai pihak, semuanya sepakat meskipun Jakarta tak lagi menjadi ibu kota negara Indonesia, namun dipastikan perekonomiannya tetap berjalan seperti sebelumnya. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa perpindahan ibu kota tidak akan berdampak pada perekonomian Jakarta. 

“IKN kan sudah dijadikan Undang-Undang. Yang pasti, Jakarta akan tetap jadi pusat perekonomian,” ujar Anies 

Begitu juga yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang bahwa keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke IKN tidak akan berpengaruh besar pada kegiatan perekonomian maupun bisnis yang ada di Jakarta.

Sarman yakin status Jakarta sebagai pusat bisnis tidak akan berubah, justru sebaliknya. Kegiatan perekonomian menjadi semakin kuat dan produktivitas meningkat. Karena pemindahan ibu kota negara berpeluang mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi hambatan bagi banyak pihak.

“Misalnya, adanya kelancaran transportasi, logistik sehingga pengiriman barang menjadi lebih cepat. Sehingga, perpindahan itu tidaklah signifikan dalam mengurangi perputaran bisnis dan uang di Jakarta,” jelasnya.

Muhammad Diheim Biru, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebut Jakarta akan terus berperan penting sebagai pusat perekonomian negara, walaupun kedepannya sudah bukan menjadi ibu kota. Maka dari itu, Jakarta perlu untuk  tetap dibenahi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk melakukan pembenahan-pembenahan terutama pada aspek ramah lingkungan seperti pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH), penataan infrastruktur jalan dan peredaman kebisingan. 

Menurutnya, Jakarta di masa depan memiliki potensi sebagai tujuan wisata, namun faktanya masih banyak masalah yang menghambat, terutama banjir dan kemacetan. Masalah tersebut terjadi karena pengelolaan yang masih salah kaprah.